free page hit counter
Opini

Pilih Jihad atau Terorisme ?


Maraknya aksi terorisme beberapa waktu lalu bahkan hingga hari ini telah menimbulkan stigma bagi umat Islam khususnya di Indonesia. Betapa tidak, selain pelaku (teroris) mengaku beragama Islam, mereka pun mengklaim bahwa perbuatannya merupakan wujud dari jihad fisabilillah yang merupakan suatu perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan yang dialami umat Islam oleh kekuatan asing (barat). Kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan sekaligus merupakan negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia telah mendapat label sebagai negara sarang terorisme. Hal ini berlangsung sudah lama, salah satu contonya disebabkan karena terjadinya rentetan peristiwa teror seperti pemboman di Legian Kuta Bali (2016) yang menelan ratusan korban jiwa. Peristiwa ini mendorong dewan keamanan PBB pada saat itu mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa serangan di Bali ini dianggap sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa pelaku terorisme di Indonesia bukan hanya warga negara Indonesia, namun ada beberapa diantaranya merupakan orang asing yang dengan keahliannya merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk meledakkan bom di tanah airnya sendiri dan menimbulkan korban yang tidak sedikit yaitu termasuk saudara-saudaranya sendiri. Beberapa pelaku peristiwa peledakan bom di tanah air sering mengatasnamakan Islam, dan bahkan membawa nama kelompok Islam tertentu. Terlepas klaim itu benar atau salah, yang jelas aksi kekerasan itu bukanlah wujud implementasi ajaran Islam. Sebaliknya, perilaku itu menyimpang jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Islam merupakan agama rahmat untuk seluruh alam semesta. Karakter dasar ini seharusnya menjadi landasan bagi semua institusi yang menyandarkan garis perjuangannya pada Islam.

Sebagai contoh pada 2016 lalu, kabar meninggalnya Santoso yang dikenal sebagai salah satu pelaku terorisme membuat kelompok-kelompok teroris semakin getar dalam menyebarkan dan mempublikasikan informasi-informasi bahwa kematian Santoso ini merupakan salah satu wujud jihad yang sebenarnya. Dengan kurangnya pemahaman tentang bagaimana jihad yang sesungguhnya menurut ajaran Islam, maka informasi propaganda ini akan mudah mempengaruhi targetnya yang sejatinya memang bertujuan untuk menjerumuskan pemuda-pemuda Indonesia.

Dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa jihad yang adalah perjuangan seorang hamba secara ikhlas, penuh kesungguhan di jalan Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan terorisme adalah suatu usaha dan kegiatan seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama dimana gerakan tersebut penuh ancaman yang menakutkan, dan berwujud kekerasan dengan cara yang brutal dan cenderung menimbulkan korban, baik harta maupun jiwa, serta lingkungan, baik terhadap musuh yang menjadi sasaran, maupun bukan musuh yang ada disekitarnya. Perlu ditekankan juga bahwa semua perbuatan teror pada dasarnya ilegal, tidak mendapat izin dan restu dari Pemerintah setempat dan juga tidak mendapat dukungan fatwa dari ulama yang berkompoten dalam wilayah hukum setempat dan bahkan telah dilarang untuk menempuh terorisme dalam memperjuangkan ide-ide mereka.

Dari kedua penjelasan diatas, tampak jelas perbedaan dan pertentangan antara keduanya. Dimana perbedaannya terletak pada prosedur. Jihad adalah kegiatan yang prosedural karena di jalan Allah pasti menempuh cara yang baik dan benar, terhindar dari perbuatan yang mudharat yang dapat merugikan dan mencederai seseorang, beserta harta dan lingkungan. Sementara teroris adalah suatu gerakan yang tidak prosedural menurut hukum dan selalu berwujud menimbulkan kemudharatan dari berbagai aspek. Adapun pertentangannya terletak pada hukum-syariatnya. Jihad adalah hak karena merupakan salah satu perintah Allah, sedangkan terorisme adalah batil karena melanggar larangan Allah.

Selain itu, menurut agama Islam jihad adalah wujud penyempurnaan segenap ibadah, karena jihad itulah tiang ibadah yang merupakan perwujudan dari cinta kasih kepada Allah swt, seorang hamba rela mengorbankan jiwa dan raganya serta harta bendanya dalam perjuangan. Namun, perlu digaris bawahi bahwa perjuangan yang dimaksud adalah untuk mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan. Terorisme sebagai kekerasan politik sepenuhnya bertentangan dengan etos kemanusiaan. Sementara, agama Islam itu sendiri mengajarkan etos kemanusiaan yang sangat menekankan kemanusiaan universal. Islam menganjurkan umatnya untuk berjuang mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan, akan tetapi perjuangan itu tidak harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan yang baik sekalipun, Islam tidak memperkenankan atau menghalalkan segala cara apalagi cara-cara kekerasan.

Join The Discussion