free page hit counter
Opini

Massuro Baca ; Kita Makan Kasarnya, Mereka Makan Halusnya

Hirup pikuk suasana di dalam rumah selalu terlihat saat menyambut bulan suci Ramadan. Para perempuan akan banyak menghabiskan waktu di dapur dipenuhi dengan aroma bumbu rempah masakan kari ayam, bahkan asap dari pembakaran ikan yang sesekali membuat kabur penglihatan, hingga bunyi piring dan gelas pun ikut berirama.

Di ruang tengah dalam rumah panggung telah berjejer beberapa baki yang akan diisi dengan berbagai makanan lezat yang membuat lidah bergoyang. Selain nostalgia masakan ibu, momen ini juga menjadi ajang untuk mempertemukan keluarga. Hal inilah yang membuat kita orang Bugis yang sedang merantau atau menempuh pendidikan di kota, selalu ada alasan untuk rindu rumah dan ingin menghabiskan puasa pertama di kampung.

Nah tahukah sobat Damai? sebagian masyarakat Bugis punya kebiasaan turun-temurun dalam mengekspresikan religiusitasnya. Tidak hanya dalam ibadah mahdhah, tetapi juga muamalah. Seperti ritual kebudayaan Massuro Baca yang dikategorikan sebagai ibadah muamalah.

Dalam bahasa Bugis “Massuro”, artinya menyuruh (meminta bantuan) dan “Baca” artinya meminta doa dengan menyajikan berbagai jenis makanan. Jadi “Massurro Baca” mempunyai makna sebagai pembacaan doa dalam rangka melaksanakan suatu hajatan sebagai bentuk kesyukuran.

Aktivitas inilah yang dilakukan dalam menyambut bulan suci Ramadan, dengan meminta pertolongan pada orang tertentu untuk mendoakannya secara bersama-sama. Pemilik hajat akan meminta atau memanggil seorang Pabbaca, yaitu orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk membacakan doa. Pabbaca biasanya adalah seorang imam kampung atau pemuka agama.

Di atas baki terdapat beragam hidangan yang akan membuat kita lapar seketika dan rasa-rasanya ingin menyantap sekaligus, apalagi satu bulan kedapan kita tidak akan makan seharian. Bagaimana tidak jika di atas baki terdapat varian makanan, seperti kari ayam, ikan bakar, ayam goreng, tumis udang, acar, sayur sop dan tentunya nasi. Rasanya lambung kita seakan punya tempat yang lega untuk menampung semua hidangan tersebut.

Namun, varian hidangan yang dijasikan tentunya akan berbeda dari tiap-tiap pemilik rumah untuk dihidangkan, tergantung kemampuan finansial dan tenaga pemilik rumah. Selain makanan dilengkapi juga dengan minuman dan kobokan di masing-masing baki. Terdapat pula dupa yang dibakar dengan bau khas serta kepulan asap yang memenuhi ruang tengah tersebut. Kemudian pak imam akan membaca doa sesuai dengan niat atau hajat penghuni rumah.

Massuro Baca memiliki tujuan sebagai ungkapan rasa syukur dalam menyambut bulan suci Ramadan dan mengirimkan doa untuk keluarga atau leluhur yang telah meninggal. Namun demikian tradisi ini tidak semuanya dilaksanakan oleh masyarakat Bugis. Ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan dan kebiasaan yang sudah dilaksanakan dari tahun ke tahun.

Bukan hanya itu, mengingat bahwa dalam melaksakan tradisi Massuro Baca, dibutuhkan persiapan secara ekonomi dalam menyiapkan bahan makanan. Sehingga jika dalam suatu keluarga tidak melaksanakan tradisi tersebut karena keterbatasan ekonomi, maka tidak masalah jika tidak dilaksanakan. Jadi bisa dimaknai bahwa ada tradisi tertentu yang bersifat lentur sesuai dengan situasi dan kondisi.

Ngomong-ngomong, apakah setiap makanan di atas baki itu ada makna filosofinya? Jawabnnya tentu saja ada. Menurut Ahmad Sultra (2018) orang Bugis mengkomunikasikan perasaan dan harapannya tidak hanya dinyatakan secara verbal, tetapi bisa melalui perbuatan, upacara, karya seni, benda, tumbuhan, buah-buahan dan dalam bentuk simbol filosofi yang terdapat dalam makanan.

Contohnya semua baki yang telah diisi dengan varian makanan memiliki niat dan tujuan yang berbeda-beda. Pada baki pertama dibacakan doa sebagai ucapan kesyukuran kepada Allah SWT atas keselamatan satu tahun yang telah lalu.  Kemudian Baki kedua adalah baca doa nabi yang dikirimkan untuk Nabi Muhammad SAW. Baki ketiga untuk waliyala atau keluarga yang telah meninggal almarhum dan alamrhuma.

Jika ada suami atau istri yang telah meninggal biasanya juga akan ditambahkan satu baki khusus pasangan yang telah meninggal, dan terakhir baki yang diletakkan di Posi Bola (pusat rumah yang biasanya berada di tengah-tengah rumah dan letaknnya di dalam kamar) yang kemudian di bacakan doa untuk malaikat penjaga rumah (Ahar, Imam Kampung).

Menurut Pelras (2006) persembahan yang terdiri atas sajian makanan diperuntukkan bagi makhluk halus (to-alusu) dalam hal ini orang-orang yang telah lebih dulu menghadap Allah SWT. Menurut kepercayaan orang Bugis makhluk tak kasatmata (to-tenrita) akan menyantap unsur-unsur halus atau esensi hidangan tersebut. Sementara manusia menyantap bagian kasar atau substansi dari hidangan yang disajikan, hal inilah yang diyakini sebagian masyarakat Bugis.

Massuro Baca pada dasarnya adalah ekspresi kesyukuran kepada Allah SWT melalui instrumen kebudayaan yang diwarisi secara turun-temurun. Tradisi ini juga untuk menjaga soliditas kekeluargaan melalui tradisi massuro baca dengan mengumpulkan para kerabat dan tetangga untuk tudang sipulung (duduk bersama) dan bersantap secara berjamaah sekaligus mengenang para leluhur yang telah mendahului.

Pertemuan Islam dengan budaya lokal tidak menafikan adanya akulturasi timbal-balik dan saling memengaruhi satu sama lain. Bahkan seringkali kita berada dalam konflik pemikiran dan ketegangan dalam proses adapatasi hingga perkawinan antara Islam dan tradisi. Termasuk polemik tradisi Massuro baca yang mendapatkan respon negatif oleh sekelompok islam puritan sehingga tradisi yang ada selalu berada dalam frame hitam putih.

Sejatinya Islam sebagai suatu ajaran yang dibawa oleh para ulama yang mengajarkan tentang Islam moderat dan bersahabat. Maka Islam sebagai agama mulai memberikan pengaruh terhadap pola pikir masyarakat setempat. Pada saat yang sama, masyarakat tidak serta merta meninggalkan kebiasaan lama atau bahkan menghilangkannya.

Di sinilah letak kelenturan dan adaptasi Islam sebagai ajaran dan Pangngadereng (adat) sebagai sistem nilai masyarakat Bugis yang tak terpisahkan (Dua Temmassarang). Sebab ketika membahas aspek nilai budaya Bugis maka yang tergambar adalah sisitem syariat agama Islam. Dengan kata lain hukum-hukm Islam telah menginovasi unsur-unsur dalam sistem Pangngadereng masyarakat Bugis menjadi Islami.

Keduanya saling beradaptasi dan berdialog sepanjang kehidupan, sehingga hasil adaptasi dari ajaran Islam dengan kebudayaan setempat menghasilkan suatu kreasi dan inovasi kebudayaan yang mengandung nilai ajaran Islam yang diwujudkan dalam bentuk ritual seperti  Bassuro Baca.

Masyarakat memahami dan memaknai ritual Massuro Baca sebagai ekspresi kesyukuran kepada Allah SWT. dan menjadi momentum mengingat kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. yang menjadi penyebab dari segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, termasuk dengan adanya limpahan kasih sayang-Nya melalui bulan suci Ramadan, Marhaban Yaa Ramadan dan selamat menjalankan ibadah puasa.

Nurfadillah

Referensi :

Pelras, Christian. Manusia bugis. Jakarta: Forum Jakarta-Paris, 2006.

Rustan, Ahmad Sultra. Pola Komunikasi Orang Bugis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018.

Join The Discussion