free page hit counter
Opini

Senjata Khusus ; Empati dan Kepekaan Sosial

Kasus pandemi Covid-19 di Indonesia kian hari terus meningkat. Hingga 10 April 2020, kasus terkonfirmasi di beberapa Negara tercatat mencapai 1.479.168 dengan jumlah kematian 87.987 kasus. Kasus yang tercatat di Indonesia berjumlah 3.512 yang dinyatakan poaitif, 282 dinyatakan sembuh dan 306 meninggal. Secara tak langsung, semua kasus Covid-19 yang terjadi telah menghambat laju  berbagai sektor yang ada.

Dampak Multi Sektoral

Di Indonesia, pandemi Covid-19 memberikan dampak multi sektor dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, hingga ke ranah agama. Dampak di berbagai sektor tersebut kian hari mulai dirasakan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh persoalan kesejahteraan kehidupan sosial masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Masyarakat yang sedang dihadapkan dengan pandemi Covid-19 mulai merasakan ketidaknyamanan dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Keinginan untuk memenuhi segala kebutuhan dasar dan menjalankan fungsi sebagai makhluk sosial, sangat sulit dilaksanakan kini. Kesehatan, kondisi ekonomi, rumah tangga, rasa aman dan nyaman, serta kualitas hidup baik seakan-akan sedang diterjang oleh badai. Kesejahteraan kehidupan sosial masyarakat terancam.

Oleh sebab itu, dalam hal ini diperlukan peran besar dari pemerintah guna menjaga kondisi kesejahteraan masyarakat. Selain fokus menangani pandemi Covid-19, kerentanan sosial yang tengah mengusik masyarakat harus bisa diatasi. Tanpa disadari, situasi dan kondisi di Indonesia semakin bercabang saja. Satu cabang masalah hadir, kemudian masalah lain muncul di sela cabang yang baru.

Tidak Efektifnya Kebijakan Penanganan

Pandemi Covid-19 memiliki potensi yang mengancam hampir seluruh aspek yang ada di kehidupan masyarakat. Sosial, ekonomi, kesehatan dan psikologi masyarakat telah diusik oleh pandemic global ini. Dampak ini juga dirasakan oleh masyarakat dunia, kondisi ini akan memicu kerentanan sosial masyarakat di tengah kesibukan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Selain itu, ketahanan kehidupan masyarakat pun menjadi goyah dan mudah luruh begitu saja.

Katahanan yang dimaksud ialah kemampuan mayarakat dalam menggunakan sumber daya tersedia dalam memenuhi kebutuhan dasar serta menjalankan fungsinya sebagai masyarakat sosial. Namun, kondisi sekarang tidak memungkinkan bagi masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhan, seperti teknologi, makanan, pekerjaan dan juga rasa aman serta nyaman. Kesejahteraan telah diganggu oleh kecemasan serta kepanikan masyarakat.

Jika dikaitkan dengan kurang efektifnya beberapa intruksi pemerintah dalam menangangi penyebaran Covid-19, misalnya physical distancing yang dianggap sebagai langkah paling benar dalam mengurangi penyebaran virus. Namun kepanikan dan kecemasan, menyebabkan masyarakat bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri. Memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga, merupakan keharusan untuk menjaga pertahanan dirumah, bukan pertahanan masyarakat.

Selain itu, penyebab lain yang membuat physical distancing gagal tidak efektif ialah karakter budaya masyarakat setempat dan kebijakan pemerintah dijalankan tanpa adanya penegasan khusus sehingga cenderung menampakkan kegagalan pemerintah dalam menangani masalah yang timbul. Ada juga faktor yang paling penting, ialah kurangnya empati masyarakat dalam menyikapi dilemma cabang masalah akibat pandemic covid-19.

Menghadirkan Empati dan Kepekaan Sosial

Di tengah terror serta suasana mencekam di tengah jajahan Covid-19, muncul berbagai peristiwa yang memilukan hati kita. Pemakaman jenazah yang terinfeksi Covid-19 ditolak oleh warga. Alasannya hanyalah takut apabila virus itu malah menyebar dan menyebabkan penduduk setempat bernasib serupa dengan para korban.

Terlihat jelas, empati masyarakat yang mulai pudar atau bahkan telah menghilang karena rasa cemas serta panik yang berlebih. Faktanya bangsa Indonesia dikenal oleh warga dunia sebagai masrakat dengan keramahan dan kesopanannya. Namun ditengah kondisi pandemi ini, rasa itu tak ada lagi. Ibarat orang yang tak saling kenal dan tak ingin mengenal, tak ada rasa sayang.

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya sedang dalam keadaan atau perasaan yang sama dengan orang lain. Empati juga diartikan sebagai kemampuan seseorang menyadari diri sendiri atau perasaan dan tindak lanjutnya adalah saling membantu satu sama lain. Melalui tindakan atupun dorongan secara mental.

Covid-19 sebenarnya hanyalah sebuah ujian yang ditujukan kepada  warga sipil, pemerintahan, tokoh-tokoh pejabat dan seluruh masyarakat dunia guna melihat bagaimana ketahanan dari segi kesehatan, ekonomi dan juga rasa aman nyaman. Kemudian, menjadi ujian yang berat bagi mentalitas serta sikap kepedulian masyarakat terhadap sesame.

Tugas masyarakat bukan lagi sekadar physical distancing, tinggal dirumah, menjaga kebersihan dan membiasakan diri untuk mencuci tangan. Ha tersebut merupakan anjuran dari pemerintah serta organisasi kesehatan yang memang seharusnya kita lakukan. Namun tidak hanya itu, diperlukan membangun kesadaran dalam menyikapi dampak Covid-19 dengan menghadirkan sikap empati serta kepekaan sosial.

Pemerintah dengan segala instruksi dan juga anjurannya, masyarakat dengan segala kepatuhan serta kepercayaannya terhadap usaha pemerintah. Juga memerlukan empati dan kepekaan sosial agar segala tindak yang diterapkan dalam menangani Covid-19 dapat berjalan dengan efektif. Selain itu tetap menjauhkan masyarakat dari kemungkinan kerentanan yang terjadi di kehidupan sosial masyarakat.

Selain korban yang berdampak langsung, empati dan kepekaan sosial perlu kita diberikan kepada masyarakat kalangan bawah yang paling banyak terdampak secara ekonomi. Sikap empati dan kepekaan sosial bisa saja menjadi sebuah senjata khusus bagi kita dalam memerangi dampak akibat pandemi Covid-19. *asn

Join The Discussion