Opini

Menata Hati Untuk Bersama

“Kenalilah kasih sayang di dalam hati saudaramu melalui apa yang dimilikinya di dalam hatimu” (Imam al Baqir)

Sejauh ini kita hidup untuk berjuang.layaknya sebuah peperangan memperebutkan kerjaan di padang tandus yang tidak akan ada hentinya. Selalu saja musuh hadir membentangkan senjata yang begitu tajam dan berkilau.

Kita dihadapkan dengan musuh yang terkadang datangnya dari diri sendiri, dari keegoisan dan ketamakan hati. Menghilangkan kebenaran hanya untuk menguasai kepuasan diri yang bersifat fana.

Antara aku kamu dan rumah kita yang terporak porandakkan akibat ketamakan pemikiran yang dangkal, akibat transfer pengetahuan yang belum tuntas. Mendahulukan keegoisan dan kekerasan, Menyampaikan pendapat bukan atas dasar penyelesaian sebab akibat demi menjunjung tinggi arti penghormatan dari rasa menghargai antara sesama yang berbeda kepercayaan, tapi keinginan akan kesaksian bahwa dia terhebat meski mungkin saja pengetahuan yang di miliki masih perlu pengkajian yang lebih mendalam lagi sehingga wajar pertikaian, perselisihan tidak akan berujung usai bahkan rumah ibadah saudara kita ikut menjadi korban ketamakan pikiran mereka.

Sampai kapan hal demikian akan terus berlanjut? Sampai kapan kita melihat kekerasan dan pengrusakan selalu saja terjadi meski terkadang berawal dari hal yang sepele berujung menjadi permasalahan yang kompleks tanpa ada lagi kedamaian?

Padahal, kita hidup dengan tujuan yang sederhana yaitu bahagia dan sejahtera, Bukan malah sebaliknya yaitu sengsara dan menebar perselisihan dimana-mana. Perlu kembali menata hati, membersihkan dengan menggali pengetahuan hingga tuntas.

 Rendah hati terhadap perbedaan, mengetahui keterbatasan kognitifnya, terbuka dengan sudut pandang orang lain dan santun meski mungkin menjadi korban serta belajar menanamkan empati dalam diri sebab Lahirnya empati  dengan memiliki rasa kepedulian terhadap cara berpikir, perasaan dan keadaan orang lain  lintas budaya dan berbeda agama juga merupakan awal menumbuhkan kedamaian.

 Meredam keegoisan hati yang bagaikan  pisau tajam  siap melukai dengan cara move on menata hati lebih baik akan  menemukan kebahagian hidup bersama meski berbeda keyakinan karena toleransi akan hadir di diri kita jika kita sadar pentingnya kebersamaan.

Rynmanist

Join The Discussion