Opini

Cinta Laura dan Moderasi Beragama dalam Menciptakan Perdamaian

Beberapa bulan yang lalu, Kementrian Agama meluncurkan kegiatan yang berupa “Aksi Moderasi Beragama” pada September 2021. Dalam kegiatan tersebut, terdapat aktris Cinta Laura yang diberi kesempatan untuk menyampaikan pidatonya.

Pidato yang berjudul “Moderasi Beragama Generasi Millenial” merupakan sebuah sikap anak muda tentang Moderasi Beragama dalam bentuk himbauan, pengingat serta pernyataan sikap.

Cinta Laura membacakan pidato tersebut dihadapan Menteri Agama Yaqut Cholil Qourmas, Kemendagri yang diwakili Tito Karnavian, dan Mendikbudristek Nadiem Makarim.

“Mewakili generasi muda dalam mengekspresikan moderasi beragama, generasi millenia akan menjadi generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun kedepan atas arah yang akan diambil negara ini untuk menjadi negara yang maju, modern, dan terkemuka di dunia”

“Saat ini kita berada didalam situasi sulit, di mana adanya polarisasi dalam opini masyarakat. Terlihat jelas adanya ketidaksepakatan untuk menjadi negara yang kuat”

“Dalam satu sisi generasi muda memiliki keinginan yang besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa, tapi di sisi lain masyarakat Indonesia masih sering berkelahi dan saling menjatukan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, suku, terutama agama”

Cinta laura juga menyebutkan tentang pasal 1 UU PNPS tentang adanya enam agama di Indonesia dan motto Bhinneka Tunggal Ika “berbeda-beda tetapi tetap satu”. 

Ia juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas sedangkan Tuhan adalah sosok yang tidak terbatas. Oleh karena itu, bagaimana makhluk yang terbatas merasa mempunyai kemampuan mengerti sesuatu yang jauh diluar kapasitas?

“Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis. Orang terjebak dalam cara berpikir di mana mereka telah memanusiakan Tuhan. Merasa memiliki hak mendikte kemauan Tuhan, tahu pemikiran Tuhan, dan berhak bertindak atas nama Tuhan”

“Hal tersebutlah yang menjadikan mereka berubah menjadi sifat yang radikal. Bahaya yang dialami masyarakat sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi. Menyesatkan generasi dengan prinsip hidup yang seharusnya tidak ada di dalam kitab suci agama”

“Pada akhirnya, fungsi terbesar agama adalah satu, yaitu untuk membimbing kompas moral manusia, untuk mengingatkan bahwa kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat, bersyukur dan sadar bahwa waktu kita di dunia ini sangatlah singkat dan terbatas”

Cinta laura juga merangkum sebuah solusi yang dapat dilakukan untuk memberdayakan masyarakat terkait hal tersebut yaitu pertama, pentingnya kita mengingatkan bahwa indahnya, kayanya dan uniknya budaya yang dimiliki negara ini.

Yang kedua, ajaran yang ada di sistem pendidikan harus adil dalam merepresentasikan agama-agama yang ada di negara ini. Agar mereka sejak dini sadar bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan sehingga mereka tidak menyakiti satu sama lain hanya karena sebuah perbedaan.

Ketiga, ajarkan kepada mereka untuk mempelajari sesuatu dari berbagai sudut pandang, berpikir kritis dan tumbuhkan rasa ingin tahu mereka sehingga tidak mudah dipengaruhi dan dijajah oleh pikiran mereka sendiri.

Dan yang terakhir, menggunakan teknologi yang semakin canggih sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi.

Pidato yang disampaikan Cinta Laura menjadi pengingat sekaligus kritikan kepada generasi Millenial untuk memahami arti dari sebuah keragaman budaya, sifat toleransi dan perbedaan yang ada di Indonesia.

Makna Moderasi Beragama

Setelah melihat pidato yang dipaparkan oleh Cinta Laura di acara Kemenag, mungkin masih ada beberapa orang yang bertanya apa itu moderasi beragama dan langkah seperti apa yang perlu dilakukan sehingga moderasi beragama dapat menjadi pemersatu bangsa?

Moderasi sendiri memiliki arti dari berbagai istilah. Dalam bahasa Inggris, moderasi berasal dari kata moderation yang berarti sikap sedang, tidak melebih-lebihkan. Ada pula kata moderator, yang berarti ketua (of meeting), pelerai, penengah (of dispute). Asal kata moderation dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an (tidak berlebih dan tidak kekurangan).

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata moderasi berarti penghindaran kekerasan atau keekstreman. Kata ini berasal dari serapan kata “moderat” yang berarti sikap selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, cenderung ke arah tengah.

Sedangkan terdapat kata lain “moderator” yaitu orang yang bertindak sebagai pengarah pada pembicaraan atau diskusi masalah. Jadi kata “moderasi” jika digabungkan dengan kata “beragama” memiliki arti akan sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama.

Penggabungan kata tersebut merujuk pada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah untuk menyatukan seluruh elemen kehidupan bernegara dan berbangsa Indonesia.

Sikap moderasi tentu dibutuhkan untuk menghindari radikalisasi/radikalisme, kejahatan, kebencian, caci maki dan hoaks terutama dalam beragama, karena hal tersebut merupakan sikap yang kekanak-kanakan, memecah bela dan merusak kehidupan.

Moderasi beragama dapat terlihat dari 4 indikator yang diantaranya adanya komitmen kebangsaan yang kuat, sikap toleran terhadap sesama, memiliki prinsip menolak tindakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal serta menghargai tradisi dan budaya lokal masyarakat Indonesia yang beragam.

Moderasi beragama menjadi suatu usaha kreatif dalam mengembangkan sikap keberagamaan di tengah ketegangan sosial yang terjadi. Komitmen utama dari sebuah moderasi beragama terhadap toleransi menjadi cara terbaik untuk menghadapi radikalisme agama yang mengancam kehidupan beragama.

Indonesia dengan keberagamannya

Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, hingga agama di setiap wilayahnya. Selain enam agama yang paling banyak di masyarakat, terdapat ribuan suku, bahasa dan aksara serta kepercayaan lokal.

Dari keberagamannya, tidak dapat dipungkiri jika banyak keberagaman, kepercayaan/keyakinan, pandangan dan kepentingan masing-masing terutama dalam beragama. Untungnya, di Indonesia memiliki satu bahasa yang dapat memersatukan bangsa yaitu bahasa Indonesia.

Sehingga perbedaan-perbedaan yang ada masih dapat dibicarakan dan saling memahami. Walaupun begitu, kadang masih sering terjadi pergolakan dan ketersinggungan karena adanya perbedaan keyakinan.

Adanya pengetahuan dari sebuah keberagaman itulah yang dapat menjadikan seorang pemeluk agama dapat mengambil jalan tengah (moderat) jika sebuah perbedaan keyakinan dan pandangan masing-masing.

Hal tersebut juga menjadi solusi serta visi misi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan, yaitu dengan mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragaman tafsir serta tidak terjebak dalam ekstremisme, intoleransi, dan tindak kekerasan.

Abdi

Sumber Referensi:

youtube.com/watch?v=rSFW5u22eXw  “Pidato Cinta Laura yang Nyaris Bikin Menteri Agama Menangis” diakses pada 15 November 2021

www.iainpare.ac.id/moderasi-beragama-sebagai-perekat/ diakses pada 15 November 2021

Join The Discussion