Opini

Cuaca Buruk yang Menutupi Sebagian Besar Wilayah Sulawesi Selatan

Cuaca adalah keadaan atmosfer secara keseluruhan pada suatu saat, termasuk perbuahan, perkembangan dan menghilangnya suatu fenomena (World Climate Conference, 1979). Cuaca Buruk merupakan aspek cuaca apapun yang beresiko terhadap kehidupan serta properti.

Indonesia merupakan negara kepulauan terluas yang ada di dunia dengan jumlah pulau terbanyak di Asia Tenggara dan memiliki panjang garis pantai mencapai 95.181 Kilometer. Dengan kata lain, luas lautan yang ada di wilayah negara Indonesia lebih luas dibanding daratannya.

Kepulauan yang dibatasi oleh selat dan laut luas, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang kehidupan masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagian besar masyarakat yang berpemukiman di sepanjang pantai, tentu saja banyak menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Salah satu contohnya ialah masyarakat pesisir pantai di provinsi Sulawesi Selatan.

Menjadi salah satu wilayah dengan luas daerah pesisir dan laut hingga 75% dari total luas wilayah Sulawesei Selatan, menjadikannya sebagai wilayah berpotensi sektor maritim yang tinggi. Namun, memasuki musim penghujan, serta perubahan cuaca yang sangat ekstrem, membuat sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan terhambat pada sektor maritim.

Selain itu, perubahan cuaca yang ekstrem pun berpotensi menimbulkan bencana alam, seperti banjir, tanah longsor dan berbagai bencana lainnya. Masyarakat yang berpagut tangan pada penghasilan laut sebagai penyambung hidup pun harus rela tidak mendapatkan manfaat apapun dari laut seperti biasanya. Karena di cuaca buruk seperti ini, keselamatan nyawalah yang paling penting.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk waspada pada dampak cuaca buruk dari curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan bencana dan imbauan ini untuk diterapkan mulai tanggal 7-10 Desember 2021, kemarin.

Memasuki tanggal perkiraan cuaca buruk yang disampaikan oleh BMKG, sejumlah bencana hidrometeorologi terjadi di beberapa wilayah. Dikutip dari makassar.sindonews.com tercatat ada tujuh daerah di Sulawesi Selatan yang masuk ke dalam kategori siaga bencana dan ketujuh daerah ini telah mengalami dampak dari cuaca ekstrem yang terjadi pada tanggal 7 Desember.

Beberapa daerah lainnya, Barru, Bantaeng, Bone, Takalar, Parepare, Jeneponto, Sinjai, Bulukumba, Pinrang dan Kepulauan Selayar. Telah mengalami dampak serupa akibat cuaca buruk, banjir, tanah longsor, banjir bandang, banjir rob, genangan air, angin kencang yang disertai hujan, pohon tumbang hingga jalanan yang licin akibat hujan, semuanya dapat mengakibatkan hal fatal bagi keselamatan.

Oleh sebab itu, BMKG dengan sigap mengeluarkan imbauan yang kemudian diteruskan oleh pemerintah setempat untuk dilakukannya tindak pencegahan. Seperti pengurangan aktivitas masyarakat yang berada diluar rumah, agar segala kejadian yang tidak diinginkan dapat dihindari. Hal ini mencakup semua kegiatan transportasi darat, laut maupun udara di sekitar wilayah Sulawesi Selatan.

Kembali lagi mengingat, dampak buruk dari cuaca ekstrem ini memang banyak menghasilkan bencana hidrometeorologi. Namun kita seharusnya secara sadar mengetahui, bahwa akibat kemunculan cuaca yang ekstrem ini merupakan dampak dari perubahan kehidupan masyarakat yang memengaruhi keadaan alam sekitar.

Artinya, segala bentuk bencana alam maupun ekologi yang terjadi, tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh alam atau terjadi begitu saja, melainkan ada campur tangan manusia di dalamnya.

Memahami dampak tersebut, sudah seharusnya kita sebagai masyarakat dunia yang menginginkan rasa aman nyaman dan damai selama hidup di bumi, wajib melaksanakan segala macam bentuk kegiatan yang menguntungkan bagi lingkungan serta alam sekitar.

Potensi yang dimiliki oleh provinsi Sulawesi Selatan, tentu saja dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai haknya menjadi warga negara yang berada di daerah tersebut. Oleh sebab itu, segala bentuk rasa syukur kita pada alam, harus kita curahkan juga pada alam.

A Sofyan NA

Join The Discussion