Opini

3 Cagar Alam Sulawesi Selatan, Salah Satunya Bisa Menjadi Destinasi Wisata Edukasi

Apakah sobat Duta Damai sudah tahu kalau di Sulawesi Selatan memiliki Cagar Alam yang menarik? Provinsi Sulawesi Selatan memiliki beberapa Cagar Alam yang cukup terkenal dan beberapa diantaranya digunakan sebagai tujuan wisata edukasi.

Selain kaya dengan ragam budaya dan tradisi, Provinsi Sulawesi Selatan juga memiliki spesies tumbuhan dan hewan yang melimpah. Seperti, flora khas Sulawesi Selatan yaitu pohon lontar dan pohon siwalan.

Tidak hanya flora, Provinsi Sulawesi Selatan juga memiliki fauna khas, seperti Julang atau Rangkong Sulawesi. Dimana flora dan fauna tersebut sangat sulit ditemui di luar daerah Sulawesi Selatan. Sehingga, untuk menjaga stabilitas spesies tersebut membutuhkan peran Cagar Alam/C.A

C.A sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki fungsi pokok sebagai pengawetan keanekaragaman hayati dan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.

Cagar Alam yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan

Beraneka ragam sumber daya dan spesies flora fauna yang ada di pulau Sulawesi, membuat pulau ini memiliki 21 Cagar Alam. Jumlah total tersebut tersebar pada 5 provinsi.

5 provinsi yang memiliki Cagar Alam antara lainnya yaitu, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan satu-satunya provinsi yang tidak memiliki cagar alam yakni, Sulawesi Barat.

Cagar Alam yang ada di Sulawesi selatan adalah C.A Faruhumpenai, C.A Bantimurung, dan C.A Kalaena. Berikut keterangan lengkapnya.

1. Cagar Alam Pegunungan Faruhumpenai Sulawesi Selatan

Pegunungan Faruhumpenai terletak di Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur, Kecamatan Angkona dan Kecamatan Mangkutana. Cagar Alam Faruhumpenai mulai dijadikan sebagai kawasan konservasi sejak tahun 1979, satu tahun sebelumnya pada tahun 1978 Pegunungan Faruhumpenai ditunjuk sebagai kawasan hutan.

Sedangkan penetapan Pegunungan Faruhumpenai menjadi kawasan konservasi dengan fungsi cagar alam baru berjalan beberapa tahun, yaitu tahun 2014. Keputusan tersebut berdasarkan Sk Menhut No. SK. 6590/Menhut-VII/KUH/2014 tgl 28 Oktober 2014.

Pegunungan yang memiliki luas kurang lebih 90.000 hal ini merupakan kawasan hutan dataran tinggi membentang antara ketinggian 545-1832 m diatas permukaan laut.

Cagar Alam Faruhumpenai terdiri dari ekosistem hutan pegunungan dataran rendah yang banyak dialiri sungai-sungai besar seperti Sungai Kalaena, S.Angkona, S.Wailao, dan S. Dandawasu. Cagar Alam Faruhumpenai kaya akan berbagai jenis tumbuhan seperti Diospyros celebica, Callophyllum sp, Santinia sp, Agathis sp, Palaquium sp, dan Nepenthes sp.

Pada tahun 2001 beberapa peneliti LIPI menemukan sekitar 95 jenis anggrek di Cagar Alam Faruhumpenai, diantaranya ada 4 jenis anggrek koleksi baru, 1 jenis anggrek langka dan 1 jenis anggrek endemik. Jenis anggrek koleksi baru yang berhasil ditemukan oleh LIPI tersebut yaitu Peristylus goodyeroides, Goodyera sp (bunga putih), Goodyera sp.(daun hijau), dan Dendrobium sp.

Jenis anggrek langka yang berhasil ditemukan di Cagar Alam Faruhumpenai adalah Phalaenopsis amboinensis yang berada pada ketinggian 920 – 1100 mdpl. Sedangkan jenis anggrek endemik adalah Coelogyne celebensis yang ditemukan pada ketinggian 400 – 500 m.dpl.

Sedangkan untuk flora ada anoa gunung, burung raja udang, burung rangkong, burung gosong, rusa timor, kuskus, dan kera hitam.

2. Cagar Alam Kalaena Sulawesi Selatan

C.A Kalaena berada di kawasan hutan Koroncia Mangkutana, Luwu Timur, dengan luasnya sebesar 110 ha. Berbeda dengan Cagar Alam lainnya, satu ini berada di antara pemukiman dan lahan pertanian. Hutan Kalaena resmi dijadikan sebagai kawasan konservasi dengan fungsi cagar alam pada tahun 1987. Hal tersebut sesuai dengan keputusan No. 428/Kpts-II/87, pada tanggal 29 Desember 1987.

Sayangnya, ekosistem Hutan C.A Kalaena juga sudah mengalami perubahan akibat tekanan kegiatan manusia yang ada di sekitarnya. Kegiatan yang bisa merusak ekosistem seperti, menebang pohon, perladangan, dan pembakaran yang kerap dilakukan saat kemarau tiba.

Sebagai kawasan konservasi Cagar Alam dengan tipe vegetasi hutan hujan rendah, di dalam C.A Kalaena terdapat siklus hidup dan berkembang berbagai macam jenis satwa dan beragam jenis pohon dan tumbuhan hutan yang hidup alami.

Misalnya, pohon jenis Eboni, salah satu kategori kayu mewah dan mempunyai nilai ekspor paling tinggi dalam dunia perdagangan. Penelitian yang dilakukan di C.A Kalaena pada tahun 2019 lalu menghasilkan penemuan bahwa secara keseluruhan ditemukan 92 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 44 famili.

Ada 43 jenis tumbuhan yang memiliki potensi menjadi tumbuhan berguna dan berdasarkan habitusnya didominasi oleh pohon sebanyak 39 jenis.

3. Cagar Alam Bantimurung-Bulusaraung Sulawesi Selatan

C.A Bantimurung-Bulusaraung secara administrasi terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan taman nasional ini merupakan bagian dari kawasan menurut fungsi hutan yang luasnya mencapai 3.879.771 ha.

C.A Bantimurung-Bulusaraung juga sering disebut masyarakat dengan Taman Nasional Babul. TN Babul ini ditunjuk menjadi taman nasional oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2004. Keputusan tersebut tertuang pada nomor 398/Menhut/II/2004.

C.A Bantimurung-Bulusaraung cukup berbeda dengan C.A lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Pada C.A Bantimurung-Bulusaraung memiliki flora dan fauna yang sangat beragam, di sisi lain juga memiliki cerita sejarah tersendiri.

The Kingdom of Butterfly, Beragam Spesies Kupu-Kupu di TN Babul. Istilah “The Kingdom of Butterfly” diberikan khusus untuk C.A Bantimurung-Bulusaraung. Hal ini bermula saat Alfred Russel Wallace melakukan perjalanan akademik untuk mengeksplorasi flora dan fauna di Bantimurung sebagai bagian dari kegiatan menjelajah Kepulauan Indo-Malaya, tahun 1856 sampai 1862.

Dalam kawasan karst Maros-Pangkep yang merupakan bagian kawasan hutan Bantimurung ditemukan keanekaragaman fauna, termasuk berbagai jenis kupu-kupu. Dengan keanekaragaman jenis kupu-kupu tersebut, Wallace kemudian memberi julukan “The  Kingdom  of  Butterfly ”.

Pemanfaatan hayati dari TN Babul yang paling utama adalah kupu-kupu. Hewan bersayap indah ini juga menjadi ikon TN Babul, termasuk cinderamata yang diperjualbelikan. Terdapat beberapa titik dari C.A Bantimurung-Bulusaraung yang bisa kamu kunjungi, sekaligus berburu cinderamata.

Provinsi Sulawesi Selatan betul-betul kaya akan ragam spesies flora dan fauna. Beberapa Cagar Alam yang yang tersedia menjadi bukti bahwa Sulawesi Selatan benar-benar menjaga alam beserta seisinya. Sebagai pemuda tugas kita yaitu melanjutkan dan menjaga yang sudah ada. *NV

Join The Discussion