Opini

Menjadi Childfree Bukan Pilihan yang Buruk

Belakangan ini santer rame diomongin sejagat maya, perihal childfree alias pilihan untuk tidak memiliki anak. Sosok youtuber Gita Savitri dan artis Cinta Laura menjadi perbincangan banyak orang, karena keputusan mereka yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Mereka merasa memiliki anak dan menjadi orangtua merupakan tanggung jawab besar. Gita dan Cinta enggan melahirkan anak kalau pada akhirnya malah memberikan luka karena tidak bisa menjadi orangtua yang bertanggung jawab bagi anaknya.

Saya yang baru mengetahui tentang childfree dalam pembahasan Gita dan Cinta ini pun tertarik, kemudian saya mencari tahu lebih lanjut terkait statement mereka. Hasilnya membuat saya terkekeh, namun tetap saya akui bahwa keputusan untuk childfree adalah pilihan bagi setiap pasangan yang sudah menikah. Memangnya tidak rasional? Yah rasional dong. Orang yang memilih untuk childfree, menurut saya rasional alias masuk akal. Walaupun, pilihan hidup itu tentu dianggap ekstrem oleh sebagian masyarakat kita dan dianggap tabu oleh orangtua dari generasi baby boomer yang kebanyakan konservatif apalagi maniak agama.

Perihal childfree ini, saya pun mencari informasi melalui berbagai referensi. Termasuk dari sudut pandang agama. To be honest, jika membahas agama saya memang belum cukup baik, tapi kalau sebuah konsep bertentangan dengan hukum di dalam Islam, saya cetak tebal tentang konsep itu. Bahwa Ternyata tidak ada kewajiban di dalam Islam untuk memiliki anak. Secara Fiqh juga tidak ada larangannya. Bagaimana? Deal? Jadi orang tua itu bukan cuma pekerjaan hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup!!!

Kemudian saya pun menyadari  bahwa punya anak bukanlah kewajiban atau keharusan, melainkan PILIHAN. Pilihan siapa? Yah Masing-masing pasangan yang memutuskan untuk childfree. Keputusan ini pun bukan hanya sepihak akan tetapi kedua belah pihak, jadi jika ingin childfree yah menikah jugalah dengan yang se-frekuensi. Baiklah, jika Gita Savitri dan Suaminya sepakat untuk childfree, serta yakin bisa berbahagia tanpa kehadiran seorang anak. Lantas, kita orang luar punya hak apa untuk menghakimi pilihan hidupnya?

Kemudian muncul orang-orang yang merasa kontra dengan pilihan Gita, “padahal banyak yang menantikan buah hati, tapi kok mereka malah tidak mau,” ucap seorang netizen. Mereka yang memilih childfree dan mereka yang menanti buah hati adalah kasus yang berbeda, otak beda pikiran juga pasti tentunya beda.

“Nanti tuanya kesepian, nggak bahagia, dan nggak ada yang urus,” celetuk netizen lain, Resiko dari sebuah keputusan, orang yang punya keputusan yang nanggung jadi biarkanlah. Toh memangnya anda siapa sepeduli itu? Keluarga bukan saudarapun juga bukan, Lagipula yakin jika punya anak akan bebas masalah dan bahagia? In case, Anda adalah orang tua yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua dan jadikan anak sebagai sapi perah. Duh jauh-jauh Anda dari saya.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa keputusan childfree atau tidaknya pasangan merupakan URUSAN PERSONAL YANG BUKAN RANAH KITA. Membahas tentang childfree ini menimbulkan pro dan kontra di sisi saya. Pro-nya adalah bisa kerja di mana saja, produktif kapan saja, menentukan level karir secepat apa, punya waktu untuk menikmati hidup sebebas-bebasnya dengan pasangan, Wah limitless time! Limitless fun, limitless power, limitless semua!

Childfree bukanlah sesuatu yang buruk, manusia diharuskan untuk mampu mengendalikan diri supaya tidak menimbulkan kekacauan di dunia. Dunia sudah overpopulasi dan kenyataannya tidak semua orang pantas menjadi orang tua. Membuat anak-anak terlantar, berperilaku toxic ke anak, dan menjadikan anak sebuah investasi untuk masa depan adalah contoh perbuatan orang tua yang tidak bertanggung jawab. salah satu alasan banyak orang yang ingin childfree karena trauma masalalu yang dilakukan oleh orang tuanya. Memang asal bacot aja, tapi ini hanya pendapat jadi saya tulis mengenai pandangan saya.

Kontranya adalah memang menjadi orang tua, menjadi ibu itu memang sangat menyebalkan, menyusahkan dan menberatkan. walaupun saya belum menikah tapi saya punya naluri bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan yang tidak mudah. Menjadi seorang ibu adalah posisi yang tak bisa digantikan oleh gender lain. Wanita memang diciptakan untuk repot dan repotnya itulah yang akan menentukan masa depan dunia dan negaranya. Tentang bagaimana ia dapat membesarkan anaknya menjadi manusia yang punya potensi kepemimpinan yang baik dimanapun ia berada. Coba perhatian biografi orang-orang sukses yang kalian kagumi, mereka berasal dari mana dan dimana mereka dibesarkan?  Hal yang paling disorot adalah siapa orang tuanya dan nilai-nilai kebaikan apa yang orang tuanya ajarkan kepadanya.

Time flies, people change. Manusia tercipta sebagai makhluk yang rasional sekaligus subjektif. Apapun pilihannya, mau punya anak atau childfree, seseorang bisa saja di kemudian hari merevisi pikiran sebelumnya. Hehehe bukan mendoakan kaum childfree agar berbalik arah akan tetapi kembali lagi ke personal masing-masing. Intinya, santai saja dengan pilihan hidup orang lain yang sekiranya berseberangan. Kita tetap bisa saling mendukung dan berteman, meski beda pandangan. Cheers. *cc

Join The Discussion