Opini

Korea Selatan : Negara Maju dibalik Kerasisan Bangsanya

Korea Selatan kembali disorot dalam perhelatan Olimpiade Tokyo 2020.  Kali ini datang pada wakil Korea Selatan dalam cabang olahraga pistol udara 10 meter, Jin Jong Oh, ia melayangkan sebuah pernyataan perihal kemenangan atlit Iran peraih medali emas di cabang yang sama pada sesi wawancara.

Javad Foroughi, peraih emas merupakan wakil atlet tembak Iran. Jin mengatakan bahwa kemenangan Foroughi adalah omong kosong dan menyebut Foroughi sebagai teroris. Pernyataan ini pun mengundang kontroversi dan menjadi perbincangan oleh netizen di segala penjuru dunia.

Kontroversi Atlet Penembak Legendaris Korea selatan

Jin mempermasalahkan status Foroughi sebagai anggota IRGC. Nah, IRGC ini dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat. Kata Jin seorang teroris juara olimpiade itu adalah sesuatu dan sangat tidak mungkin. Namun nyatanya mungkin saja kan. Jangan bilang dia iri karena kekalahannya. Pernyataan ini sontak mendapat reaksi dari berbagai pihak termasuk netizen Indonesia dan diramaikan dengan hashtag #koreanrasist #stopasianhate.

Kedutaan besar Iran untuk Korea Selatan ikut bereaksi dia meminta tudingan terorisme untuk Foroughi dihentikan, ia mengatakan “korps pengawal revolusi telah menjadi pilar angkatan bersenjata resmi dari republik  islam iran dan melindungi tanah dan rakyat serta memainkan peran penting dalam membangun keamanan di timur tengah.”

IRGC merupakan organisasi legal dan disetujui oleh pemerintah Iran akan tetapi dengan seenaknya orang lain dan amerika menganggap ini adalah organisasi teroris. Jika membahas lebih jauh lagi hubungan Amerika-Iran kurang baik jadi tak heran jika Amerika menggambarkan Iran sebagai negara buruk yang mana Korea Selatan selalu membuntut dibelakang Amerika mencari pembenaran dan pembelaan di setiap argumennya, bisa dilihat dari channel Korea Reomit yang ikut bereaksi terhadap kontroversi yang dibuat oleh Jin jong oh yang juga menyetujui pernyataan Amerika yang mengatakan IRGC adalah organisasi teroris. See?? Dimana kiblat orang-orang Korea? Biar kalian yang nilai sendiri.

Kabar baiknya Jin Jong Oh pun meminta maaf karena menyebabkan kontroversi melalui pernyataannya yang tidak pantas dalam wawancara dengan sebuah media, “ketika saya kembali ke bandara internasional incheon, saya sangat merenungkan ini dan meminta maaf ke foroughi yang tersakiti karena pernyataan saya” katanya. Namun, dibalik itu seorang atlet tidak seharusnya bersikap seperti itu. Sportivitas dalam olahraga adalah kekuatan untuk membangun jiwa, nah salah satu alasan kenapa didalam pertandingan olahraga tidak boleh rasis.

TV Nasional hingga Drama Korea Selatan

Masih di ranah olimpiade, tv Korea Selatan MBC juga dikritik oleh netizen karena tampilkan gambar dengan stereotip tertentu untuk menggambarkan negara peserta olimpiade saat upacara pembukaan. Indonesia masuk salah satu yang digambarkan sebagai negara bermasalah, “sedikit informasi mengenai Indonesia, negara kepulauan terbesar didunia, negara dengan penduduk terpadat didunia urutan ke-4, memiliki gdp rendah, vaksinasi rendah dan 6 persen penduduknya terinfeksi covid-19” tulis MBC. Ingin mengelak tapi kenyataannya negara kita memang seperti itu fakta adanya tetapi korelasinya dengan olimpiade apa? Harusnya mereka mempublikasikan sesuatu yang menjadi ciri khas negara itu sendiri contoh tentang pulau dewata Bali atau tentang makanan yang terkenal di Indonesia, Rendang atau Nasi Goreng.

Sekelas tv nasional membuat berita seperti ini agak tidak make sense meninggikan negaranya dengan cara merendahkan negara lain. Usut punya usut MBC juga pernah ketahuan melakukan kesalahan yang sama di ajang olimpiade terdahulu disaat memberikan info yang tidak penting dan bermutu serta menjelekkan negara lain. Dua kali loh MBC mengulangi kesalahan yang sama dan nampaknya memang sudah terorganisir jika mereka memang menyetujui tindakan tersebut. Kesalahan yang sama dan permintaan maaf yang sama juga, halah sudah basi.

Tidak hanya itu dalam drama korea serial Racket Boys, ada juga penggambaran Indonesia sebagai bangsa culas dan menghalalkan segala cara. Tak tanggung-tanggung nasionalisme netizen Indonesia pun langsung menyerbu akun official Racket Boys agar menyerukan kalimat minta maaf, namun lucunya permintaan maaf oleh pihak resmi mereka dilakukan hanya dalam sebuah komentar sudah. Sebagaimana di banyak negara lain, rasisme ada dan nyata di Korea Selatan sebagai contoh perempuan berkerudung ditengah keramaian kerudungnya ditarik oleh orang tak dikenal, rasisme terhadap orang asia tenggara yang disebut sebagai bangsa yang miskin dan tidak berpendidikan.

Persepsi Warga Korea selatan terhadap Orang Asing

Menurut laporan komnas HAM Korea Selatan tentang diskriminasi rasial, bentuk-bentuk diskriminasi rasial terhadap orang asing di Korea Selatan yang mana peremehan secara verbal 56%, gangguan terhadap privasi 46.9%, memandang secara tidak menyenangkan 43.1%, diskrimnasi ditempat kerja 37.4%, ditolak kerja karena alasan diskriminatif 28,9% dan pelacehan seksual 7%.

Tahun 2014, Seoul Institute Survey pernah melakukan survei dan mereka menanyakan ke 2500 orang asing di Korea yang telah mengalami diskriminasi. Faktanya sekitar 94.5% mengaku pernah mengalami diskriminasi, angka ini cukup besar dan hampir semua mengalaminya.

World Values Survey tahun 2010-2014 juga mengadakan survei yang hasil surveynya menyatakan 44.2% warga Korea Selatan tidak mau mempunyai tetangga yang berbeda etnis. Lebih dalam lagi survei ini juga menunjukkan bahwa tindakan diskriminasi dan rasis itu benar-benar ditujukan pada orang-orang Afrika dan Asia Afrika bagian selatan.

Bukti lemahnya undang-undang terhadap diskriminasi yang ada di korea selatan yaitu masih belum ada UU anti-diskriminatif di Korea Selatan dan faktanya diskriminasi tercipta jelas dari aturan dan kebijakan yang ada, disekolah dan pasaraya serta halte bus.

Lantas negara maju seperti Korea Selatan kok masih ada rasisme? Jadi, nasionalisme di Korea mengakar kuat dari kepercayaan terhadap seribu tahun garis keturunan murni serta bahasa, tradisi, dan sejarah yang sama. Kepercayaan ini kian menguat selama penjajahan Jepang diawal abad ke -20 . Usaha pelenyapan budaya Korea oleh Jepang membangun etnonasionalisme; sebuah paham kebangsaan berdasarkan sentimen etnis yang kuat dikalangan penduduk korea.

Faktor lain yang membentuk persepsi warga Korea kepada orang asing adalah krisis moneter 1997. Saat itu, korsel terpaksa menerima pinjaman bailout dari IMF dan dampak buruknya terhadap ekonomi korea berupa penutupan lembaga keuangan, 5% pekerja kehilangan pekerjaan  dan menurunnya pendapatan sebagian besar penduduk.

Sampai detik ini negara korsel ini dimana nasionalisme dibangkitkan dengan cara memandang bangsa sendiri paling hebat dan merendahkan bangsa lain. Rasisme wajar jika itu menambah rasa nasionalisme dan semangat bernegara. Terlihat dari bukti-bukti yang saya paparkan. Menjadi negara maju ternyata tidak menjadikan bangsanya bermoral dan beretika. Saya tidak mengeneralisir semua tapi rerata dari bangsanya adalah pelaku.

Mungkin juga terbuai dengan puja puji pertumbuhan ekonomi dan budaya populernya yang mengglobal sehingga mereka superior dibandingkan bangsa lain. Akan tetapi rasisme tetap tidak dibenarkan. Sekian. *cc

Join The Discussion