Opini

Moderasi Dakwah di Era Globalisasi

Pada hakikatnya, perubahan zaman akan  mempengaruhi perubahan sosial atau perlakuan  masyarakat terhadap institusi zaman dengan  berbagai kerumitan atau problematika kehidupan  yang melingkupinya. Kecanggihan media turut  mempengaruhi tingkat dan cara berpikir masyarakat  moderen, sehingga banyak orang mengkategorikan  zaman ini sebagai zaman pemikiran dan filsafat  sehingga masyarakat moderen cenderung  mempertanyakan segala yang ada termasuk nilai  dan ajaran-ajaran agama. Kondisi ini mengharuskan  setiap dai, ulama, harus menjelaskan pemikiran- pemikiran keagamaan dengan cara yang sesuai  dengan kondisi dan karakter zaman seperti yang  sudah disinggung sebelumnya. Sejatinya ini tidak  menjadi problem bagi dakwah Islamiyyah, karena Islam sesungguhnya adalah agama yang rasional  dan filosofis yang sejak awal bisa dideteksi melalui  ajakan Alquran dengan bentuk yang cukup berfariasi untuk berfikir mendalam mengenai isu-isu penting dalam kehidupan ini termasuk di dalamnya masalah ketuhanan, kemanusiaan, dan kehidupan. Dengan demikian memperkenalkan Islam dengan menggunakan logika-logika Islam dan ide-ide moral yang universal merupakan bagian dari proses moderasi Islam yang merupakan ciri khas atau karakter Islam.

Moderasi Islam menghendaki seorang dai untuk tidak hanya melihat teks-teks suci,  tapi harus juga mempertimbangkan konteks sosial masyarakat dakwah. Dan ini merupakan metode Alquran dalam membangun masyarakat dakwah. Bukan hanya itu tapi sikap moderat mengharuskan seseorang untuk membuka kran rasionalisasi ajaran Islam dalam arti harus mengemukakan nilai dan ajaran Islam dengan mengaitkan dengan rahasia-rahasia atau hikmah-hikmah yang ada di balik ajaran-ajaran Islam.

Moderasi Islam adalah paham keagamaan keIslaman yang sangat esensial. Ajaran yang tidak hanya mementingkan hubungan baik dengan Allah SWT tetapi juga tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Bukan hanya terhadap saudara seiman, namun juga terhadap mereka yang bebeda keyakinan, suku, adat, dan ras.

Ali Syari’ati mengatakan, bahwa bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh umat manusia  zaman sekarang ini bukanlah ledakan bom atom,  tetapi perubahan fitrah (Ari Ginanjar Agustian, 2002: xiii). Unsur kemanusiaan dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sedemikian cepat,  inilah mesin-mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah.

Era globalisasi seringkali digambarkan sebagai bentuk suatu perubahan yang mendunia, dimana setiap individu harus bersaing satu sama lain. Karena persaingan inilah era globalisasi memiliki kesan dan dampak yang buruk bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat muslim.

Oleh karenanya di era globalisasi ini banyak muncul paham-paham yang tidak berkesesuaian dengan norma, dan kaidah agama bahkan bertentangan dengan karakteristik umat Islam yang dalam ayat Al-Qur’an disebut ummatan washthan ( Al-Baqarah : 143) yang artinya yaitu umat “tengahan”, “moderat”, “adil” dan “terbaik”.

Karakter dasar ajaran Islam yang moderat saat ini tertutupi oleh ulah sebagian golongan yang bersikap radikal di satu sisi dan liberal di sisi lainnya. Akibatnya dewasa ini marak terjadi konflik yang dipicu oleh berbagai perbedaan terutama perbedaan paham agama. Konflik tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi tatanan sosial baik dalam konteks regional, nasional maupun Internasional.

Di era globalisasi ini juga kita menyaksikan terjadinya persaingan yang tidak seimbang antara apa yang dikelompokkan sebagai Barat dan Timur, atau Utara dan Selatan. Dari segi ilmu pengetahuan, teknologi dan pandangan hidup, dunia dibagi menjadi Barat dan Timur. Barat untuk negara-negara yang maju ilmu pengetahuan dan teknologinya serta punya pandangan hidup rasional dan sekuler, Timur sebaliknya.

Dunia Islam yang semuanya tanpa kecuali masuk Timur atau Selatan tentu saja tidak akan mampu menahan laju globalisasi itu, apalagi meng-hentikannya. Karena itu, globalisasi sudah merupakan realitas sejarah yang tidak dapat ditolak. Globalisasi adalah konsekuensi logis dari kemajuan teknologi komunikasi.

Lemahnya kualitas sumber daya manusia itu berakibat lemahnya penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam, belum lagi mental korup para penguasa dan pengelola kekayaan alam. Selain itu berakibat tidak adanya persatuan umat Islam dunia dalam arti yang sebenarnya. Belum lagi pada dataran kepercayaan umat, banyaknya aliran teologi, mazhab fikih, organisasi massa, dan partai politik terkadang bisa menyebabkan kekuatan umat menjadi tidak berarti. Disamping problem di atas yang tak kala pentingnya ialah peran media, sebagai suatu contoh ratio perbandingan masyarakat yang membaca Koran ternyata lebih rendah daripada menonton televisi atau internet. Di samping itu serbuan serbuan informasi dari berbagai media massa ternyata melebihi kapasitas ingatan manusia sehingga khalayak terbebani. Asumsi ini tidak berlebihan sebagaimana ditulis oleh Neuman, bahwa setiap hari televisi memperlihatkan 3.600 image permenit, radio rata menyiarkan kata-kata 100 kata permenit, dan internet menyajikan rata-rata 150.000 perhari.

Pencitraan (image) telah menjadi mode bagi kalangan politisi dewasa ini, lihat dalam kampanye calon legislatif dan calon presiden telah memanfaatkan media massa dalam kampanye mereka. Shirly Biagy menyatakan bahwa  dana kampanye banyak dihabiskan melalui media massa terutama televisi. Disengaja atau tidak arus informasi internasional yang dikuasai oleh kecanggihan teknologi komunikasi kini kelihatan didukung oleh konsep kebebasan informasi menurut pandangan barat. Media massa dengan kecanggihan teknologinya saat ini lebih memudahkan proses penyebaran dakwah.

Sejalan dengan itu harus dipahami manfaat dan mudharat teknologi informasi dan komunikasi, serta secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan kita, bukan tujuan-tujuan mereka (pembuat dan pencipta teknologi). Artinya kita sebagai pengguna informasi baik sebagai subjek  atau pun objek jangan sampai terjebak dengan kepentingan-kepentingan yang tersembunyi dibalik kecanggihan media tersebut.

Disinilah titik perjuangan atau jihad di bidang dakwah oleh para da’i atau lembaga dakwah, dimana kalau dulu bangsa-bangsa berjuang menguasai wilayah atau berjuang untuk kemerdekaan wilayahnya,  sekarang orang mulai berjuang dibidang baru yaitu informasi agar tidak dikendalikan oleh yang menguasai informasi. Dalam rangka membebaskan umat dari sifat-sifat kejahiliahan modern dengan pendekatan bil hikmah. Menurut Enjang yang mengutib dari pandangan Sayid Quthub bahwa dakwah dengan metode hikmah akan terwujud apabila memperhatikan tiga faktor. Pertama, keadaan dan situasi orang-orang yang didakwahi. Kedua, ada atau ukuran materi dakwah yang disampaikan agar mereka tidak merasa keberatan dengan beban materi tersebut. Ketiga, metode penyampaian materi dakwah dengan membuat  variasi sedemikian rupa yang sesuai dengan kondisi pada saat itu.

Seperti media internet yang akhir-akhir ini perkembangannya sangat fenomenal memiliki pengaruh langsung yang sangat kuat kepada pem-bacanya. Internet mampu menggerakkan prilaku massa sesuai dengan arah yang dikehendakinya. Kenyataanya massa tidak memiliki daya apa-apa, Fenomena tersebut dapat kita amati dengan terbentuknya keluarga – keluarga besar elektronik bersatu dalam jaringan sosial dan dalam jaringan kerja yang lebih besar. Jaringan-jaringan tersebut akan memberikan jasa pelayan sosial atau bisnis yang diperlukan melalui asosiasi-asosiasi. Jaringan sosial di dunia maya tersebut sangat berpotensial untuk dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Tentu saja kita tidak boleh melupakan dan mengabaikan tenaga-tenaga yang akan mengisi aktivitas dakwah di mesjid-mesjid dan majelis taklim.

Di akhir kata hemat penulis bahwa, dalam konteks dakwah Islamiyah, umat Islam di zaman globalisasi saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan zaman awal Islam. Karena itulah keberhasilan dakwah Islamiyah sesungguhnya sangat tergantung pada kemampuan gerakan dakwah memainkan metode dan strategi dakwah yang sesuai dengan karakter zamannya. Hal ini dikarenakan masyarakat modern yang sudah terglobalkan memiliki karakter yang sudah sangat jauh berbeda dengan karakter masyarakat yang sederhana yang hidup di zaman awal Islam. Dengan demikian, gerakan dakwah mau atau tidak mau harus mempertimbangkan perbedaaan karakter-karakter yang dimaksud. Salah satu alasan kenapa Islam dapat dengan mudah diterima oleh komunitas dakwah adalah karena Islam telah mendeklarasikan dirinya sebagai ajaran yang moderat, sebuah ajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan dan kemaslahatan manusia. (IC*)

Sumber :

Globalisasi dan tantangan dakwah oleh abdul hamid universitas islam as-syafi’iyah.

Dakwah in Globalization Era: Revitalization of Islamic Moderation Principles Hamzah Harun al-Rasyid Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Join The Discussion